Kisah Kedatangan Sukrano Yang Menyihir Msayarakat Ketika Turun Dengan Menaiki Pesawat Musuh di Surabaya
Jakarta - Presiden Sukarno datang ke Surabaya. Menyeru pejuang Indonesia dan Brigade ke-49 British Indian Military lakukan gencatan senjata. Pesawat dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) itu berputar-putar resah di atas Morokrembangan.
Sang pilot jelas ragu untuk
melakukan pendaratan langsung. Selain sadar jika lapangan udara itu
sudah dikuasai sepenuhnya oleh musuh, dia pun bisa jadi agak
ngeri dengan desingan peluru yang mengarah ke tubuh burung besi
tersebut.
Ketika pesawat mulai merendah, melintas di kawasan Kranggan, para
pejuang Indonesia secara refleks mengarahkan tembakan mereka ke atas.
Aksi itu terhenti seketika ketika sang komandan tiba-tiba memerintahkan
seluruh anak buahnya untuk tidak menekan picu senjata mereka.
"Seruan Bung Tomo yang terus menerus dari radio menyelamatkan pesawat
itu dari hantaman peluru-peluru para pejuang Indonesia,"ungkap Des Alwi
dalam suatu wawancara pada 2008.
Situasi kritis kembali menyergap ketika pesawat dakota mendarat di
Morokrembangan. Begitu berhenti, kendaraan udara milik Inggris itu
langsung dikepung. Moncong berbagai jenis senjata siap menyalak. Suasana
tegang membekap di seluruh area lapangan udara.
Pintu pesawat perlahan terbuka. Muncul wajah Presiden Sukarno diikuti
Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin.
Dengan mengenakan seragam putih-putih dan peci hitam khas-nya, Bung
Karno turun dari pesawat sambil mengepalkan tinjunya.
"Merdeka! Merdeka! Merdeka!"teriaknya menggelegar.
Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Massa rakyat dan tentara Indonesia
seolah tersihir. Mereka nyaris tak percaya wajah yang sudah sangat
mereka kenal itu turun dari pesawat musuh. "Itu Bung Karno, Presiden kita! Merdeka!"teriak salah seorang dari mereka.
Seperti dikomando, ribuan massa langsung menyambut teriakan itu dengan
kata-kata yang sama. Bunyi gemuruh terdengar memekakan telinga. Drama
sejarah tengah berlangsung di Morokrembangan pada siang 29 Oktober 1945.
Si Bung Besar dan rombongan dari Jakarta kemudian diarak ke luar
lapangan udara. Dengan menggunakan sebuah panser wagon, massa rakyat dan
tentara Indonesia mengawal mereka hingga ke Gedung Kegubernuran di
pusat kota Surabaya. Selama dalam perjalanan, Sukarno melukiskan
kesannya terhadap situasi Surabaya saat itu.
"Kota itu sudah menjadi kota neraka,"ungkapnya seperti disampaikan
kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia.
Sukarno dan Hatta segera melakukan diksusi dan perundingan dengan para
pemimpin di Surabaya: Gubernur Suryo, Moestopo, Residen Sudirman dan
Doel Arnowo. Kepada mereka Sukarno meminta untuk menghentikan
pertempuran dan mengadakan gencatan senjata dengan pihak Inggris.
Gumanan kesal berguruh di ruangan kegubernuran. Para pemimpin Surabaya
menolak ajakan itu dan memilih untuk melanjutkan pertempuran. Mereka
merasa tidak pernah melanggar perjanjian 26 Oktober 1945. "Di mata mereka, Sekutulah yang ingkar janji,"ungkap Frank Palmos dalam Surabaya 1945, Sakral Tanahku.
Sukarno memahami semangat revolusiener para pemimpin Surabaya. Namun dia
mengatakan bahwa hari-hari itu, Indonesia sebagai bangsa yang baru
lahir dan menjadi sorotan dunia, harus memenangkan pertempuran lewat
meja perundingan.
"Kita tidak akan bisa merdeka dan menang perang, bila kita masih saja membunuh dengan cara membabi-buta,"ujar Sukarno.
Kendati merasa berat, para pemimpin dan rakyat Surabaya akhirnya tunduk
kepada keputusan presiden mereka. Besoknya Presiden Sukarno atas nama
rakyat Indonesia melakukan perundingan dengan Mayor Jenderal D.C.
Hawthorn, Panglima Sekutu untuk wilayah Jawa, Bali dan Lombok.
Terbitlah keputusan-keputusan sebagai berikut:
Satu, isi selebaran yang ditandatangani oleh Hawthorn dan disebarluaskan pada 27 Oktober 1945 dinyatakan tidak berlaku.
Dua, pihak Sekutu akan membatasi kehadiran mereka pada wilayah kamp-kamp kaum interniran di sekitar Gedung HBS dan wilayah Darmo
Komentar
Posting Komentar