Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Mengetahui Kisah Dibalik Gedung CC PKI

Jakarta - Direncanakan menjadi salah satu kantor partai politik termegah, bekas kantor CC PKI kini dianggap sebagai tempat berhantu. Gedung tua nan kusam itu menjulang tinggi di pinggir Jalan Kramat Raya Jakarta. Dengan rerumputan liar dan lilitan akar pohon-pohon tumbuh di badannya, orang-orang sekitar menjulukinya sebagai sarang hantu.Tak ada yang berani merambah, sekalipun di halamannya. "Ini gedung bekas kantor PKI. Angkernya luar biasa. Sudah banyak yang mencoba masuk tapi kebanyakan 'enggak kuat' dan malah kesurupan,"ujar Jumali (59 ), tukang jahit keliling yang biasa mangkal di sebelah gedung tua tersebut. Saat ini, gedung yang aslinya bernomor 81 itu tak bisa sembarang dimasuki orang. Guna keperluan pengambilan gambar saja, minimal harus mengurusi izin yang berliku kepada pihak-pihak tertentu. Salah satunya kepada pihak manajemen sebuah resort berbintang yang terletak persis di sampingnya. "Ya katanya sih sudah dijual kepada mereka. Ent...

Mengenal Kisah Istri Bung Karno Yang Dicintai Berasal Dari Jepang

Jakarta - Sebelum Naoko Nemoto (Ratna Sari Dewi), Sukarno telah menjalin hubungan serius dengan perempuan Jepang existed bernama Sakiko Kanasue. JIKA bicara tentang istri Presiden Sukarno yang berasal dari Jepang, maka mayoritas orang akan menyebut nama Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi. Anggapan itu tentu saja tidak keliru. Bagi Sukarno, Naoko merupakan salah satu istri yang paling berpengaruh dalam kehidupan politiknya, terutama di hari-hari kala kekuasaan Si Bung Besar mulai meredup. "Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, bisa dikatakan Dewi adalah salah satu penasehat politik paling penting bagi Sukarno,"ungkap sejarawan Aiko Kurosawa. Tetapi dalam kenyataannya, Dewi bukanlah perempuan Jepang satu-satunya yang pernah singgah di hati Bung Karno. Menurut seorang penulis Jepang bernama Masashi Nishihara dalam The Japanese and also Sukarno's Indonesia, empat tahun sebelum menikahi Dewi, Sukarno pernah menjalin ikatan cinta dengan seorang perempu...

Mengenal Sejarah Plaza Glodok, Sebuah Tempat Yang Pernah Menjadi Penjara Tionghoa Dan Koes Plus

Jakarta - Sebagai bekas rumah tahanan, bangunan Plaza Glodok di Taman Sari, Jakarta Barat pernah menjadi saksi kelam kekejaman represi VOC terhadap etnis Tionghoa di dekade 1700 an. Saat itu tindakan bangsa Eropa yang sewenang-wenang membuat para warga di sana melawan. Saking kacaunya, pemberontakan tersebut memakan korban sebanyak 5.000 sampai 10.000 nyawa yang tidak mau kehormatannya diinjak-injak penjajah. "Pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat Cina ini memang dapat ditumpas VOC, tetapi harus dibayar mahal. Konon, kala itu mayat-mayat bergelimpangan di Glodok"Kata mantan Sejarawan dan Arsip Nasional Indonesia, almarhum Dr. Mona Lohanda, mengutip jakgo-dev. smartcity.jakarta.go.id, Selasa (5/10). Dalam perjalanannya, penjara Glodok juga pernah menjadi tempat hukuman bagi sejumlah pejabat hingga kelas menengah seperti Bung Hatta dan kelompok musik Koes And also (saat itu masih bernama Koes Bersaudara). Berikut informasi selengkapnya. Pernah Jadi R...

Mengetahui Kisah Semaoen, Ternyata Pendiri Asal-muasal PKI Dari Jombang

Jakarta - Siapa yang tak kenal dengan nama Dipa Nusantara Aidit atau biasa disebut DN Aidit, salah satu tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Selain itu, ada juga nama Musso, Amir Syarifuddin, Alimin Prawirodirjo dan lain-lain. Mereka adalah sebagian tokoh yang dikenal dari PKI. Namun siapa sangka jika ternyata cikal bakal PKI justru didirikan oleh salah satu tokoh yang lahir dan besar di Kota Santri, sebutan untuk Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Namanya adalah Semaoen. Hanya satu kata seperti kebanyakan nama orang Jawa saat itu yang cukup singkat. Ia adalah anak dari Prawiro Atmodjo, seorang pegawai rendahan di perusahaan kereta api Belanda saat itu. Semaoen lahir hingga remaja di Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Jombang, Jawa Timur 1899. Pada saat hidup di desa tersebut, Semaoen bukanlah anak yang menonjol di kalangannya. Sebagai anak pegawai rendah, ia besar sebagaimana anak kebanyakan di lingkungan desa setempat. "Dulu rumah Semaoen ada di samping balai de...