Mengetahui Kisah Dibalik Gedung CC PKI
Jakarta - Direncanakan menjadi salah satu kantor partai politik termegah, bekas kantor CC PKI kini dianggap sebagai tempat berhantu.
Gedung tua nan kusam itu menjulang tinggi di pinggir Jalan Kramat Raya
Jakarta. Dengan rerumputan liar dan lilitan akar pohon-pohon tumbuh di
badannya, orang-orang sekitar menjulukinya sebagai sarang hantu.Tak ada
yang berani merambah, sekalipun di halamannya.
"Ini gedung bekas kantor PKI. Angkernya luar biasa. Sudah banyak yang
mencoba masuk tapi kebanyakan 'enggak kuat' dan malah kesurupan,"ujar
Jumali (59 ), tukang jahit keliling yang biasa mangkal di sebelah gedung
tua tersebut.
Saat ini, gedung yang aslinya bernomor 81 itu tak bisa sembarang
dimasuki orang. Guna keperluan pengambilan gambar saja, minimal harus
mengurusi izin yang berliku kepada pihak-pihak tertentu. Salah satunya
kepada pihak manajemen sebuah resort berbintang yang terletak persis di
sampingnya.
"Ya katanya sih sudah dijual kepada mereka. Entah mau dibikin restoran atau resort lagi, kurang jelas ..."kata Jumali.
Commite Central PKI mulai membangun gedung yang rencananya akan dibuat
megah itu pada sekitar 1962. Sebelumnya mereka berkantor di Gang Lontar
(sekarang Jalan Kramat Lontar) bareng dengan Committe Daerah BesarJakarta
Raya.
Merasa harus terpisah, maka CC PKI berinisiatif membuat patungan nasional di antara anggotanya. Setelah terkumpul, hasil patungan itu ternyata bisa membeli sebidang tanah di pinggir Jalan Kramat Raya pada 1954. Menurut Achmad, sebelum dibeli CC PKI tanah itu ditempati oleh seorang pedagang Tionghoa dan seorang pedagang Arab.
Mereka masing-masing
menjual barang-barang kelontongan serta alat-alat rumah tangga seperti
ranjang, kasur dan lain-lain. "Tanah itu lalu dibeli oleh CC PKI dengan harga yang disepakati,"ungkap lelaki kelahiran Jakarta pada 1932 itu.
CC PKI lantas memperluas kepemilikan tanahnya hingga 3 hektare. Tanah
seluas itu membentang dari Gang Sentiong (sekarang Jalan Kramat
Sentiong) hingga Gang Lontar dan memiliki batas memanjang ke belakang
hingga rel kereta api.
Rencananya selain kantor pusat, PKI juga akan
membangun lapangan olahraga dan perumahan untuk para pegawai CC PKI.
Pembangunan itu konon akan melibatkan arsitek-arsitek dari Uni Soviet. Namun soal ini dibantah oleh Martin Aleida, ex-spouse wartawan Harian
Rakyat-- surat kabar yang berafiliasi dengan PKI. Tidak ada keterlibatan
negara lain dalam rencana pembangunan itu.
"Sepengetahuan saya, arsiteknya adalah Ir. Sakirman, tokoh PKI yang juga
merupakan adik dari Mayor Jenderal Siswondo Parman,"ungkap Martin. Proyek raksasa pembangunan infrastruktur kaum komunis itu sendiri, baru
berjalan pada 1962.
Dimulai dengan renovasi Gedung CC PKI dari satu lantai menjadi enam lantai. Lantas seperti apa interior kantor kaum merah itu? Sebagai eks sekretaris CC PKI, Siswoyo memiliki kenangan tersendiri mengenai situasi dalam kantor-nya tersebut.
Menurutnya, interior kantor CC PKI sangat artistik. Di seputar ruang tamu dihiasi dengan berbagai relief dan patung karya para seniman komunis dari Yogyakarta. Dan yang tak banyak orang luar PKI tahu, di dinding ruang tamu Gedung CC PKI juga dipasang tiga foto besar:
Panglima Besar Jenderal Soedirman (tokoh TNI), Ir. Anwari (tokoh PKI) dan Ki Hajar Dewantoro (tokoh pendidikan nasional). "Pak Dirman dan Ki Hajar Dewantoro itu adalah orang-orang Indonesia yang hebat.
Sebagai penghormatan terhadap sikap konsisten dan prestasi
perjuangan para tokoh di luar golongan kami, PKI memasang gambar mereka
di Kantor CC PKI,"ujar Siswoyo dalam biografi politiknya, Siswoyo dalam
Pusaran Arus Sejarah Kiri (disusun Joko Waskito).
Sebagai partai kader sekaligus partai massa, PKI tentu saja mengupayakan
munculnya simpati dari masyarakat. Guna mewujudkan itu, CC PKI kerap
mengadakan bakti sosial. Masih segar dalam ingatan Achmad, hampir
menjelang hari-hari besar nasional seperti lebaran, natal dan
memperingati hari kemerdekaan, partai berlambang palu arit itu kerap
mengadakan pembagian sembako gratis dan bazar murah.
Mereka juga kerap memberikan hiburan gratis kepada masyarakat sekitar. "Biasanya lewat pengadaan kegiatan pentas seni rakyat di depan kantor mereka,"ujar lelaki Betawi itu. Sebelum meletus Insiden 30 September 1965, hubungan PKI dengan masyarakat sekitar bisa dikatakan baik-baik saja.
Namun demikian,
menurut Dadi, tak ada satupun orang-orang asli Gang Lontar yang kepincut
aktif di PKI. Bisa jadi itu dikarenakan orang-orang Gang Lontar sempat
meyakini isu bahwa orang-orang PKI itu enggak bertuhan.
"Ya walau gimane, orang-orang Betawi itu kan Islam-nye fanatik ye. Jadi
istilah kate mereka mau bagi-bagi bantuan kite terima aja deh, tapi
kalau mereka mau mengaruhi kite, pastinye kagak dapet ..."ujar Dadi,
kelahiran Gang Lontar 72 tahun lalu itu.
Menurut Dadi, tak banyak orang saat itu menyangka pembangunan kantor CC
PKI hanya akan sampai lantai empat saja. Seminggu setelah para jenderal
dibunuh di Lubang Buaya, gedung tersebut diserbu dan dibakar oleh ribuan
massa anti komunis.
Berbagai aset partai pun musnah, termasuk dokumen-dokumen penting. Seiring dibubarkannya PKI, Gedung CC-pun menjadi 'fosil' dengan sendirinya. "Sekarang mungkin hanya hantu-hantu yang betah tinggal di sana,"kata Jumali sambil tertawa lebar.
Komentar
Posting Komentar