Mengenal Kisah Istri Bung Karno Yang Dicintai Berasal Dari Jepang
Jakarta - Sebelum Naoko Nemoto (Ratna Sari Dewi), Sukarno telah menjalin hubungan
serius dengan perempuan Jepang existed bernama Sakiko Kanasue.
JIKA bicara tentang istri Presiden Sukarno yang berasal dari Jepang,
maka mayoritas orang akan menyebut nama Naoko Nemoto alias Ratna Sari
Dewi. Anggapan itu tentu saja tidak keliru. Bagi Sukarno, Naoko
merupakan salah satu istri yang paling berpengaruh dalam kehidupan
politiknya, terutama di hari-hari kala kekuasaan Si Bung Besar mulai
meredup.
"Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, bisa dikatakan Dewi adalah
salah satu penasehat politik paling penting bagi Sukarno,"ungkap
sejarawan Aiko Kurosawa.
Tetapi dalam kenyataannya, Dewi bukanlah perempuan Jepang satu-satunya
yang pernah singgah di hati Bung Karno. Menurut seorang penulis Jepang
bernama Masashi Nishihara dalam The Japanese and also Sukarno's
Indonesia, empat tahun sebelum menikahi Dewi, Sukarno pernah menjalin
ikatan cinta dengan seorang perempuan Jepanglain bernama Sakiko Kanasue.
"Ia adalah seorang version fesyen,"ungkap Nishihara.
Tapi berbeda dengan Nishihara, majalah Vanity Fair Vol. 55 Tahun 1992
menyebut Sakiko pernah bekerja sebagai pramuria di klub malam bernama
Benibasha, sebuah klub malam di pusat kota Tokyo.
Pertemuan pertama Bung Karno dengan Sakiko sendiri terjadi di Kyoto.
Sejak pandangan pertama, Si Bung nampak sudah merasa tertarik dengan
Sakiko.
Kode asmara sang presiden rupanya tidak disia-siakan oleh
Kinoshita, sebuah perusahaan Jepang yang memiliki kepentingan menggarap
berbagai proyek pembangunan Indonesia dari hasil pampasan perang Jepang.
Jadilah Sakiko 'dibawa' oleh grup Kinoshita sebagai bagian dari lobi
bisnis tingkat tinggi di Indonesia.
Sukarno memang benar-benar jatuh cinta kepada Sakiko. Tidak perlu waktu
panjang, pada 1958, dia menikahi gadis Jepang tersebut di Resort
Daiichi, Ginja. Dia kemudian memutuskan masuk Islam dan berganti nama
menjadi Saliku Maesaroh.
Di penghujung 1958, Sakiko didatangkan secara diam-diam ke Jakarta
bersama ibunya. Sebagai kamuflase dia diklaim sebagai 'guru anak-anak
ekspatriat Jepang' di Jakarta dan menempati sebuah rumah mewah di
wilayah elite Menteng. Para tetangganya mengenal Sakiko sebagai Nyonya
Basuki.
Seiring waktu berjalan, Sukarno yang sibuk mengurusi soal pampasan
perang masih rutin pulang-pergi ke Jepang. Saat itulah, menurut Aiko
Kurosawa, Sukarno bertemu dengan Naoko Nemoto, gadis cantik berusia 19
tahun. Sang orator pun lantas kembali jatuh cinta. Tanpa disadari, Naoko
ternyata merupakan andalan grup Tonichi (saingan Kinoshit) untuk
memuluskan jalur bisnis mereka di Indonesia.
Sukarno kembali dimabuk asmara. Dengan suka cita dia lantas mengundang
gadis pujaannya itu untuk datang ke Indonesia. Gayung bersambut. Naoko
menyambut baik ide itu. Maka pada 14 September 1959, Naoko datang ke
Jakarta. Menurut penulis C.M. Chow, Naoko tidak sendiri. Dia didampingi
dua gadis Jepang cantik lainnya.
"Mereka ditempatkan di rumah yang disediakan secara khusus oleh
perusahaan Tonichi di Jakarta,"tulis centimeters Chow dalam
Autobiography as informed to Atoh Matsuda. Kedatangan Naoko tercium oleh Sakiko. Rasa marah dan cemburu membakar
dia punya hati.
Merasa frustasi dan terbuang di negeri orang, dua minggu
sesudah kedatangan Naoko, Sakiko Kanasue berlaku nekad: mengakhiri
hidup dengan cara mengiris urat nadi sendir. "Dia merasa malu karena Naoko menjadi kekasih favorit Sukarno,"ungkap Lambert Giebels dalam Paradoks Revolusi Indonesia.
Sukarno kaget dan berurai air mata mendengar berita duka itu. Dia
kemudian meminta para bawahannya untuk mengurus pemakaman istri
Jepang-nya itu dengan baik dan tanpa menarik perhatian orang-orang.
Menurut Aiko, kematian Sakiko memang disembunyikan sedemikian rupa dari
penciuman pers dan khalayak. Bisa jadi itulah mungkin yang menyebabkan
upacara pemakaman dilakukan pada waktu malam dan tidak dihadiri begitu
banyak orang.
"Sakiko dimakamkan di Blok P, namun sekitar akhir tahun 1970-an,
kerangka Sakiko dipindahkan oleh keluarga besarnya ke Jepang ..."ujar
Aiko.
Bagaimana kabar selanjutnya mengenai Sukarno? Dukanya ternyata cepat
sembuh. Obatnya, apalagi jika bukan Naoko yang lebih cantik dan muda
dibanding Sakiko. Sejarah mencatat, tiga tahun setelah kematian Sakiko,
Naoko akhirnya resmi menjadi pendamping Sukarno.
Komentar
Posting Komentar