Mengenal Sultan Siak, Yang Menyumbangkan Harta Dan Tahtanya Untuk Indonesia
Jakarta - Siak adalah sebuah kesultanan yang kaya raya di tanah Riau. Sewaktu
Indonesia baru merdeka, Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau Sultan
Syarif Kasim II, pemimpin muda Kesultanan Siak menyatakan bergabung.
Kala itu, Sultan Syarif Kasim II yang dikenal sebagai pemimpin tegas dan
menyayangi rakyatnya rela memberikan sumbangan 13 juta Gulden dan
menyerahkan ladang-ladang minyak kepada Indonesia. Sebuah angka yang
sangat besar dan diperkirakan mencapai lebih dari Rp1.000 triliun pada
saat ini.
Usai memutuskan bergabung dengan Ibu Pertiwi, Sultan yang kala itu masih
berusia 21 tahun mengajak raja-raja yang memimpin Pulau Sumatera bagian
timur, agar bergabung bersama dan mewujudkan cita-cita para pejuang
bangsa, menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar, berdaulat, adil
dan makmur.
"Dia menjamin pendanaan Indonesia dengan menyerahkan mahkota-mahkota
emas bertaburan intan berlian, untuk mendukung kemerdekaan Republik
Indonesia. Tak sekedar itu, ia memberi uang pribadinya 13.000.000 Gulden
Belanda. Suatu jumlah yang sangat besar,"ujar Budayawan Riau, Taufik
Ikram Jamil, Senin (16/8).
Sultan bukan sembarangan menyerahkan tahtanya ke negara. Dia memegang
teguh dan mengamalkan wasiat sang ayah Sultan Syarif Kasim. Pesannya,
jika tidak ada lagi keturunannya yang memerintah, benda-benda dan harta
kerajaan harus diserahkan kepada pemerintah yang sah.
Terbukti, ketika Syarif Kasim II tidak memiliki keturunan, wasiat
ayahnya dijalankan. Dia kembali menjadi rakyat biasa dan menyerahkan
harta serta tahtanya ke pemerintahan.
Tak hanya itu, Syarif Kasim II juga memotivasi masyarakat di bawah
kepemimpinannya secara langsung untuk kemerdekaan RI. Bahkan dia bersama
permaisuri meresmikan tentara rakyat Indonesia di Siak pada bulan
pertama kemerdekaan. Peresmian itu dilaksanakan di depan Istana Siak.
"Kalau soal berperang menentang penjajah, orang Riau melakukannya sejak
abad ke-16. Setelah Malaka ditaklukkan Portugis, orang-orang dari Gasib
Siak memerangi Portugis tahun 1512. Ini disusul oleh Narasinga II tahun
1516 dan 1520. Abad ke-18, Tengku Buang Asmara menyerang Belanda di
Siak, sedangkan Tuanku Tambusai abad 19, seangkatan dengan Diponegoro
dan Imam Bonjol.
Pada saat bersamaan, Riau juga menyerang Belanda di
Indragiri di bawah pimpinan Panglima Sulung," ujarnya.
Di masa kepemimpinannya, Sultan sangat perhatian di bidang pendidikan.
Dia mendirikan sekolah dan termasuk pendidikan awal pribumi di
Indonesia. Dia dikenal taat, selalu menjalin silaturahim dengan kerajaan
tetangga seperti Inderagiri dan Gunung Sahilan.
Sewaktu Syarif Kasim II memerintah, wilayahnya meliputi Riau bagian
pesisir sekarang termasuk Pekanbaru. Ada 12 wilayah yang disebut
Provinsi saat itu. Pekanbaru misalnya, dinamai Provinsi Pekanbaru yang
dipimpin oleh orang bergelar Datuk Bandar.
Sedangkan wilayah luar Riau yang sempat masuk dalam wilayah kekuasaannya
itu sebagian daerah Sumatera Utara seperti Deli, Langkat, Asahan dan
Sambas di Kalimantan Barat. Namun ketika Syarif Kasim II berkuasa,
bagian itu sudah lepas dari wilayahnya.
Sultan Syarif Kasim II lahir di Siak Sri Indrapura, 1 Desember 1893 dan
meninggal di Rumbai, Pekanbaru, Riau pada 23 April 1968 pada umur 74
tahun.Dia adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura yang
mendapat gelar/penghargaan sebagai Pahlawan Nasional (Keppres No.
109/TK/1998, tanggal 6 November 1998).
SSK II diangkat jadi penasihat Soekarno usai kemerdekaan, di tahun 1946
hingga 1950-an. Mendapat tawaran itu, Sultan bersedia, namun dia tidak
mau menerima gaji.
"Dia banyak dikenang orang karena selama menjadi Sultan, selalu
bersedekah tiap hari Jumat. Bahkan, dia memberikan beasiswa kepada
pelajar sampai 70 persen. Jadi dari total biaya pelajar, 70 persennya
dibantu SSK II, tentunya sangat membantu,"ucapnya.
Setelah menyerahkan tahta dan harta Kesultanan Siak ke negara, SSK II
akhirnya menikah. Istrinya sudah memiliki sejumlah anak. Namun anak
tersebut tidak mewarisi kerajaan karena bukan keturunan langsung.
Dia menikah setelah berstatus sebagai rakyat, bukan lagi raja yakni setelah ia menyatakan bergabung dengan RI.
"SSK II menikah sebelum kemerdekaan saat masih sultan, lalu cerai waktu
setelah Indonesia merdeka. Beberapa waktu kemudian, dia menikah lagi
dengan wanita yang telah memiliki anak,"pungkasnya.
Komentar
Posting Komentar