Mengenal Jack si Kera Pintar Yang Bekerja Menjaga Pintu Perlintasan Kereta Tanpa Melakukan 1 Kesalahan pun
Jakarta - Jack adalah seekor kera yang pernah tenar karena berprofesi sebagai
asisten juru sinyal kereta api di wilayah Afrika Selatan. Meski Jack
adalah hewan, ia tidak pernah melakukan kesalahan selama 9 tahun
bertugas menjadi penjaga palang pintu kereta api.
Jack adalah hewan peliharaan James Edwin Wade. James Wade yang difabel
itu bertanggung jawab untuk layanan Cape Town-Port Elizabeth Train. Ia bertugas di stasiun Uitenhage, Capetown, Afrika Selatan. Ia dijuluki
James Jumper Wide karena aksi nekatnya melompat di antara kereta api
yang lewat di pos penjagaannya.
Dikutip dari Tool, pada tahun 1977, kejadian nahas menimpa James Wide. Ia terjatuh dan mendapatkan luka serius hingga harus merelakan kedua kakinya diamputasi. Kedua kaki yang diamputasi memuat gerak Wide tidak seperti sedia kala.
Hal itu menghambat pula pekerjaannya sebagai juru sinyal kereta. Hingga
akhirnya pada tahun 1880, James Wide pergi ke pasar Afrika Selatan dan
melihat seekor kera mengendarai gerobak sapi.
Terkesan dengan kemampuan monyet itu, Wide membeli kera tersebut untuk
dijadikan sebagai hewan peliharaan dan diminta untuk menemaninya di pos
jaga. Pertama-tama dia mengajari primata tersebut untuk mendorongnya dengan
troli kecil dan melakukan tugas, seperti mengerjakan tugas rumah,
menyapu lantai dan membuang sampah.
Ia juga mengajari Jack bagaimana menyalakan kotak sinyal palang kereta, saat peluit sudah mulai berbunyi. Dengan memperhatikan pola tersebut, Jack mulai terbiasa dan bekerja untuk menarik tuas sinyal palang kereta api ketika peluit peringatan mulai berbunyi.
Karena keterampilan Jack, Wide bisa bersantai sementara
semua pekerjaan bisa dikerjakan oleh Jack.
Keunikan dan kecerdasan Jack akhirnya sampai ke telinga masyarakat yang
kemudian silih berganti setiap hari menonton Jack beraktivitas di
Stasiun Uitenhage.
Hingga suatu ketika seorang penumpang kereta memperhatikan ke luar
jendela, dan melihat seekor monyet menarik tuas persneling palang
kereta.
Segera penumpang itu memberikan keluhannya pada manajer kereta api bahwa
seekor kera telah menjadi penjaga palang kereta. Kemudian otoritas
kereta api mencari tahu kebenaran itu, dan bertemu dengan Wide untuk
meminta kejelasan, karena kebetulan dia yang seharusnya bertugas.
Kemudian, sang manajer menguji apakah Jack benar-benar bisa melakukan
pekerjaan itu, dan siapa sangka mereka justru terkesan dengan kemampuan
Jack. Sang manager pun terkejut melihat Jack lulus dalam
semua tes yang diberikan.
Jack dan Wide pun mendapatkan kembali pekerjaannya. Tak hanya itu, Jack dibayar tiap hari. Sejak itu pula Jack mendapat julukanya, yaitu Jack The Signalman. Selama sembilan tahun Jack menjalankan tugasnya sebagai pengarah sinyal di Stasiun Uitenhage tanpa sekalipun melakukan kesalahan.
Namun, pada tahun 1890, Jack mengidap penyakit Tuberkulosis alias TBC dan mati akibat penyakit tersebut. Karena kehebatan dan kecerdasannya, tulang Jack kemudian dipajang di museum Albany di Grahamstown. Foto-fotonya pun dipampang di stasiun Uitenhage.
Kisahnya pun diangkat di sebuah jurnal pada 24 Juli 1890. Bahkan, kisahnya juga kembali diceritakan dalam sebuah surat kabar edisi 11 November 1990.
Komentar
Posting Komentar