Mengetahui Kisah Tongkat Tunggal Panaluan, Sebuah Tongkat Sakti Dari Suku Batak
Jakarta - Anjungan Sumatera Utara (Sumut) merupakan salah satu anjungan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang bisa dikunjungi, meski saat ini sedang ditutup karena ada renovasi. Terdapat sebuah koleksi dengan cerita menarik bernama tongkat Tunggal Panaluan yang dapat dilihat di rumah adat Batak Toba.
"Filosofinya, dulu ada raja yang punya anak kembar, satu lelaki satu perempuan, yang mana anak ini pamit ke raja ingin primary ke hutan,"kata Pemandu Wisata Anjungan Sumut bernama Gunin ketika ditemui di rumah adat Batak Toba di Anjungan Sumut, TMII, Jakarta, Senin (13/9/2021).
Saat keduanya tengah bermain di hutan,
sambungnya, entah terbesit apa tetapi mereka berhubungan badan. Sebagai informasi, masyarakat suku Batak tidak hanya melarang hubungan
sedarah seperti suku lain, tetapi juga melarang hubungan semarga.
"Orang Batak tidak boleh menikah semarga dan sekeluarga. Karena mereka
berhubungan badan, alam menjadi murka. Mereka tersedot ke sebuah pohon
berkayu besar," ujar Gunin. Sang raja pun khawatir karena
keduanya masih belum kembali sejak pagi.
Padahal, sore hari sudah tiba. Dia word play here akhirnya bergegas memanggil dukun yang juga disebut Datu untuk mencari mereka. Setibanya di hutan, keduanya melihat bahwa dua buah hati sang raja terperangkap di dalam pohon.
Saat mencoba
dikeluarkan, Datu tidak mampu melakukannya. "Si dukun ini tidak sanggup
ngeluarin dan tersedot juga. Dipanggil lagi dukun tiga orang, mereka
tersedot juga. Pusing si raja, dia panggil dukun yang paling sakti, tapi
juga tidak bisa dan tersedot,"kata Gunin.
"Dipotong lah pohon itu. Ditebang dan diukir berdasarkan orang-orang
yang tersedot ke situ. Makanya tongkat ini punya theme wajah orang-orang
yang tersedot, dengan motif paling atas adalah raja itu,"imbuhnya.
Versi lain cerita Tunggal Panuluan
Jika dalam versi yang sebelumnya dikatakan bahwa anak-anak sang raja menjalin hubungan terlarang, ada versi lain dari cerita itu menurut situs resmi Badan Pelaksana Otorita Danau Toba. Dalam cerita ini, dikisahkan tentang sepasang suami dan istri bernama Guru Hatia Bulan atau Datu Arak Pane dan Nan Sindak Panaluan.
Keduanya masih belum
dikaruniai seorang anak. Hingga pada akhirnya setelah delapan tahun
menunggu, Nan Sindak Panaluan hamil. Namun, selama kehamilan istrinya,
Guru Hatia Bulan sering memiliki mimpi buruk.
Setelah lama menunggu, Nan Sindak Panaluan melahirkan bayi kembar. Anak
laki-lakinya diberi nama Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring, sementara
anak perempuannya Tapi Nauasan Siboru Panaluan atau Sri Tapi Omas.
Menurut legenda, kelahiran mereka jatuh pada hari yang buruk. Setelah upacara pemberian nama, para tetua setempat meminta guru Hatia Bulan untuk memisahkan anak-anaknya. Hal ini ditujukan guna menghindari musibah.
Namun, dia tidak mengikuti saran itu dan membesarkan keduanya dengan penuh cinta hingga dewasa. Warga desa melihat anak-anak kembar itu seperti sepasang kekasih.
Bencana dan penglihatan ke masa depan
Suatu hari, kemarau datang dan menyebabkan hujan tidak turun selama hampir tiga bulan. Tanaman pun layu. Sawah dan mata air juga kering. Para tetua desa berkumpul dan memanggil seorang Datu untuk mencari tahu penyebab dari semua ini.
Menurut penglihatan sang Datu, penyebabnya
adalah perbuatan terlarang yang dilakukan dua anak kembar tersebut.
Tuduhan langsung dilemparkan kepada si kembar tanpa pembicaraan lebih
lanjut. Kepala desa dan Datu datang untuk bertemu Master Hatia Bulan.
Mereka menjelaskan, Aji Donda dan Tapi Nauasan menyebabkan kekeringan
yang terjadi di desa mereka. Akhirnya, keduanya dipanggil untuk diadili.
Saat ditanya banyak pertanyaan, keduanya tidak bisa menjawab karena
ketakutan.
Master Hatia Bulan pun tidak bisa membela anak-anaknya dan
menyerah pada hasil pengambilan suara yang meminta agar si kembar diusir
dari desa. Sang ayah yang hanya bisa pasrah kemudian membangun sopo
(sejenis lumbung padi) untuk didiami oleh anak-anaknya. Dia juga
meninggalkan seekor anjing sebagai penjaga.
Setiap beberapa hari sekali, Master Hatia Bulan dan Nan Sindak Panaluan
akan berkunjung untuk membawakan makanan sambil menahan kesedihan
mereka. Entah karena si kembar sudah tidak lagi tinggal di desa atau
bukan, kekeringan yang sebelumnya melanda akhirnya usai.
Insiden pohon yang melegenda
Tidak jauh dari sopo, terdapat pohon berduri. Meski buahnya berwarna hijau, warnanya akan berubah menjadi merah saat matang dan merah tua saat sangat matang. Buah ini berbentuk bulat bagai anggur, meski rasanya asam dan agak pahit.
Namun saat sedikit ditekan, rasanya akan menjadi
peanut dan segar. Orang-orang menyebutnya sebagai buah piu-piu tanggule.
Suatu hari, Tapi Nauasan meminta Aji Donda untuk memanjat pohon itu
lantaran dia ingin menikmati buahnya.
Dia pun mengiyakan permintaan itu dengan memanjatnya sambil menikmati
beberapa buah. Kendati demikian, tubuhnya tiba-tiba masuk ke dalam
pohon. Hanya kepalanya saja yang muncul di permukaan. Beberapa saat
kemudian, Tapi Nauasan yang sudah menunggu cukup lama untuk diambilkan
piu-piu tanggule memanggil Aji Donda meski tidak mendapat jawaban.
Saat dia dan sang anjing penjaga mendekati pohon, dia melihat tubuh Aji Donda yang terisap pohon. Saat sang lelaki tidak menjawab semua pertanyaannya, dia memutuskan untuk memanjat pohon tersebut. Akan tetapi, Tapi Nauasan mendapat nasib yang sama dengan Aji Donda. Tubuhnya terisap pohon, hanya menyisakan kepala yang muncul di permukaan.
Upaya orangtua untuk menyelamatkan anak-anaknya
Tapi Nauasan tidak sengaja menjatuhkan selempangnya saat memanjat pohon. Anjing penjaga yang ikut bersamanya membawa selempang itu ke Master Hatia Bulan dan Nan Sindak Panaluan. Sepasang suami istru itu bergegas menuju hutan saat mengetahui bahwa selempang itu milik putrinya.
Setibanya di hutan, mereka kaget melihat si kembar menjadi satu dengan pohon. Master Hatia Bulan kembali ke desa untuk mencari bantuan dari Datu Parmanuk Holing. Keduanya langsung menuju ke hutan untuk menyelamatkan si kembar dengan kekuatan Datu.
Meski demikian, kekuatan
Datu tidak seberapa. Dia pun ikut terisap ke dalam pohon. Guru Hatia
Bulan mencari Datu existed untuk membantunya. Mulai dari Datu Mallatang
Malliting, Datu Boru Sibaso Bolon, Datu Horbo Marpaung, hingga Datu
Jolma So Begu, semua turut membantu. Namun, mereka berempat juga terisap
ke dalam pohon.
Tujuh kepala kini terlihat di pohon itu. Guru Hatia Bulan menjadi
gelisah. Akhirnya, dia beranjak ke Datu Parpansa Ginjang untuk meminta
bantuan. Tidak seperti Datu lain, dia membaca doa dan meminta sesaji dan
tarian tor-tor.
Saat seekor kerbau ditawari sebagai sesaji, dia memotongnya, lalu menebang pohon dan membawanya ke desa. Guna menyeka kesedihan Nan Sindak Panaluan atas hilangnya kedua anaknya, pohon itu diukir menyerupai si kembar dan lima Datu yang mencoba untuk menolong mereka.
Ukiran juga dibentuk menyerupai anjing, dan hewan lain yang
terhisap ke dalam pohon seperti kadal dan ular. Bagian atas pohon diukir
dengan ukiran Aji Donda dan dilengkapi rambut yang dibungkus benang
tiga warna, yaitu putih, hitam, dan merah.
Pohon yang lambat laun dikenal sebagai Tunggal Panaluan selalu dibawa
untuk menghibur sepasan suami istri itu. Tunggal Panaluan dianggap
hidup. Alhasil, mereka mempersembahkan upacara dan tari tor-tor untuk
tongkat tersebut.
Dianggap sebagai tongkat sakti
Tongkat Tunggal Panaluan memiliki panjang sekitar 150-200 meter. Tunggal
artinya adalah satu, sementara Panaluan artinya adalah mengalahkan.
Adapun, Tunggal Panaluan menggambarkan hubungan antara banua toru, banua
tonga, dan banua ginjang.
Mengutip situs resmi Pemerintah Kabupaten Samosir, ketiganya dipercaya
oleh masyarakat Batak Toba sebagai bagian dari alam semesta. Tunggal
Panaluan dianggap sebagai tongkat sakti karena roh-roh yang bersemayam
di dalamnya.
Saat Guru Hatia Bulan meninggal, tongkat ini dipegang oleh Datu-datu dan hanya boleh dimiliki oleh mereka. Tongkat yang dipercaya sebagai tempat tinggal para leluhur dikatakan dapat memanggil hujan, menyembuhkan penyakit, mengusir wabah, memberi berkah, serta melindungi rumah dan desa dari musuh.
Saat Belanda menjajah Indonesia, tongkat ini hilang. Banyak orang yang mencarinya karena percaya bahwa siapa pun yang memegangnya akan mendapat kekuatan. Jika ingin melihat seperti apa bentuk tongkat Tunggal Panaluan, kamu bisa berkunjung ke Anjungan Sumut di TMII yang memiliki replikanya.
Komentar
Posting Komentar