Kisah Pertempuran di Surabaya Pada 28 Oktober 1945, Keputusasaan Brigade ke-49
Jakarta - Surabaya, 28 Oktober 1945. Beberapa jam setelah Jenderal Mayor Moestopo dan Residen Sudirman meninggalkan markas Brigade ke-49 British Indian Military (BIA), kesunyian membekap seluruh kota.
Situasi mencekam
tersebut berkelindan dengan berbagai kesibukan para pejuang Indonesia
yang mulai memasang kembali brikade-brikade di jalanan. Tidak hanya
menebang pohon-pohon yang kemudian dilintangkang di tengah jalan, mereka pun meletakan berbagai peralatan rumah tangga seperti kursi,
meja, lemari dan alat-alat dapur sebagai halang rintang.
Sekitar pukul 16.00, kontak senjata pertama dimulai. Kawasan-kawasan
sekitar Gedung Radio Surabaya, Kayoon dan lainnya menjadi medan
pertempuran yang sengit. Bersamaan dengan itu, secara perlahan dari
berbagai sudut kota, bergeraklah lebih kurang 140.000 orang (20.000 di
antaranya pernah dilatih militer Jepang) mendekati posisi-posisi pasukan
Inggris yang hanya berjumlah 4000 prajurit.
"Hingga tengah malam hampir semua pos Inggris terkepung,"ungkap Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya.
Suasana semakin mencekam ketika menjelang malam secara tiba-tiba listrik
di seluruh kota dipadamkan para pejuang Indonesia. Begitu juga hubungan
telepon. Matinya aliran listrik membuat suplai air bersih ke pos-pos
militer Inggris berhenti seketika.
Kalap dengan kondisi tersebut,
militer Inggris kemudian mulai menghajar posisi-posisi di luar pos-pos
mereka dengan menggunakan artileri secara membabi-buta.
P.R.S Peanut, salah seorang anggota Brigade ke-49, menjadi saksi
bagaimana kepanikan melanda para serdadu Inggris. Tak ada cara lain, di
tengah terputusnya komunikasi antara system pasukan, para serdadu
Inggris hanya bisa bertahan dengan menembaki segala sesuatu yang
bergerak di hadapan mereka.
"Di radio kami mendengar semua pembicaraan antara Markas Besar dengan
unit-unit yang masing-masing mengirimkan tanda SOS (sinyal bahaya),"kenang Mani dalam The Tale of Indonesian Change 1945-1950.
Pertempuran sengit terus berlangsung sampai tengah malam. Menurut
sejarawan militer Inggris bernama A.J.F. Doulton, para prajurit Inggris
nyaris putus asa menghadapi gelombang serbuan musuh yang seolah tak akan
berakhir. Para pejuang Indonesia bertarung secara fanatik tanpa
memperhitungkan korban yang jatuh.
"Jika ada seorang dari mereka yang tewas, maka tempatnya akan langsung
diganti dengan orang lain. Suatu pemandangan yang sangat mengerikan"ungkap Doulton dalam The Fighting Cock, The Story of the 23RD Indian Division.
Hingga 29 Oktober 1945, posisi pertahanan pasukan Inggris semakin
kritis. Sekalipun mereka memiliki peralatan perang yang lengkap namun
kehancuran tetap mengancam para pemenang Perang Dunia II tersebut.
Situasi mencekam tidak hanya dialami oleh para prajurit Inggris di
tengah kota yang sudah terkepung, di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak pun
mereka harus berlindung di sekitar dok-dok pelabuhan.
Secara perlahan namun pasti, beberapa tempat kembali dapat direbut oleh
para pejuang Indonesia, termasuk Lapangan Terbang Morokrembangan. Begitu
juga Gedung BPM, Gedung Internatio di dekat Jembatan Merah dan Gedung
Lindeteves di dekat Jembatan Semut ada dalam kepungan kaum Republik.
Tiga puluh tahun kemudian, seorang professional Pertempuran Surabaya
bernama R.C. Smith (saat itu berpangkat kapten) membuat pengakuan kepada
sejarawan J.G.A. Parrot.
Pengakuan Smith yang dituliskan Parrot dalam
Jurnal Indonesia yang diterbitkan Cornell College pada Juli 1976
menyatakan bahwa saat terjadinya pertempuran dua hari itu, sejatinya
Brigadier A.W.S. Mallaby (Komandan Brigade ke-49) sudah merasa waswas
jika semua itu tak bisa dihentikan, seluruh anak buahnya akan tersapu
bersih.
Pernyataan Smith itu dikuatkan oleh Doulton. Professional tentara
Inggris itu menilai jika orang-orang Surabaya dibiarkan untuk terus
beraksi maka pertempuran hanya akan berakhir dengan hancur leburnya
Brigade ke-49 di sebuah kota asing bernama Surabaya.
"Kecuali ada seseorang yang bisa mengendalikan kemarahan orang-orang itu,"ujar Doulton.
Komentar
Posting Komentar