Kisah Saat TNI Yang Pertama Kembali Masuk ke Jakarta
Jakarta - Sejak 'diusir' Inggris pada akhir 1945, empat tahun kemudian tentara Republik kembali ke Jakarta. Diwakili oleh Divisi Siliwangi. Akhir Desember 1949. Perintah itu datang begitu tiba-tiba.
Mayor Kemal Idris (Komandan Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi) mendapat instruksi
dari Markas Besar Tentara di Yogyakarta untuk menjadi pasukan TNI
pertama yang memasuki Jakarta. Maka, dari Cianjur bergeraklah lima truk
berisi masing-masing 12 prajurit pagi itu menuju ibu kota RI.
Menjelang matahari ada di atas ubun-ubun, konvoi kecil memasuki wilayah
Jatinegara. Tak ada sama sekali sambutan. Bahkan para prajurit Belanda
yang masih berkeliaran bebas di wilayah Jakarta, terlihat kaget
menyaksikan serombongan prajurit TNI memasuki jalan raya.
Sementara penduduk Jakarta hanya bisa berbisik-bisik sembari diam-diam
memandang bangga para prajurit muda TNI yang berdiri tegap di atas truk
lengkap dengan senjatanya masing-masing.
"Barulah setelah melihat bendera merah putih yang kami pasang di bagian
belakang truk, mereka berteriak riuh: 'merdeka' dan 'hidup TNI' sembari
berlari ke arah kami ..."kenang Ido bin Tachmid, lelaki kelahiran
Cianjur pada 1924 itu.
Kopral Ido adalah salah satu anggota Kompi I Yon Kala Hitam pimpinan
Letnan Satu Marzoeki Soelaiman. Merekalah yang ditugaskan Mayor Kemal
untuk memasuki Jakarta, dengan pesan:
mengamankan proses penyerahan
kedaulatan dari Kerajaan Hindia Belanda kepada Republik Indonesia
Serikat (RIS) sekaligus mengawal Presiden Sukarno yang akan datang ke
Jakarta pada 28 Desember 1949.
Setelah melapor kepada Letnan Kolonel Taswin A. Natadiningrat (pimpinan
Markas Komando Basis Jakarta), Kompi I ditempatkan pada sebuah asrama
milik Muhammadiyah yang terletak dalam kawasan Pasar Senen. Kapten
(Purn) Marzoeki masih ingat, saat menuju Markas Komando Basis Jakarta,
pergerakan pasukannya sangat lambat.
"Jarak Matraman-Senen kan sebetulnya tidak begitu jauh, tapi karena
banyaknya tukang becak dan khalayak Jakarta yang ikut mengantar
rombongan kami, jalanan jadi macet,"kenang Marzoeki.
Pada awal Desember 1945, kekuatan bersenjata Republik dienyahkan oleh
Inggris dengan alasan kota itu akan dijadikan wilayah diplomasi
internasional yang harus bebas dari kekuatan bersenjata kelompok mana
pun.
Kendati menolak keras, pada akhirnya kaum Republiken harus
menyingkir ke Bekasi dan Karawang.
"Percuma juga mereka melawan, karena keputusan itu disetujui oleh
Perdana Menteri Sutan Sjahrir,"ungkap sejarawan Rushdy Hosein.
Sejak itulah, TNI tak pernah bisa masuk lagi ke Jakarta. Rencana untuk
menggempur ibu kota selalu tak terlaksana karena berbagai alasan. Karena
itu saat akhir Desember 1949 mereka bisa masuk ke Jakarta, ada rasa
haru dan bangga di dada setiap prajurit TNI, terutama bagi
prajurit-prajurit Siliwangi kelahiran Jakarta seperti Marzoeki.
"Setelah hampir tiga tahun bergerilya di hutan-hutan Cianjur dan Sukabumi, akhirnya kami bisa ke Jakarta lagi,"ujar Marzoeki.
Setelah Yon Kala Hitam, pasukan-pasukan TNI dari Divisi Siliwangi
lainnya menyusul masuk Jakarta. Mereka dari Batalyon Siloeman Merah,
Batalyon Banteng dan Batalyon Kilat. Upacara penyerahan kekuasaan
militer dari KNIL kepada TNI pada 24 Desember 1949 pun berlangsung
lancar.
Selanjutnya Kompi I ditugaskan untuk mengawal proses penyerahan
kedaulatan dari pemerintah Kerajaan Belanda kepada pemerintah RIS
(Republik Indonesia Serikat) di Istana Negara pada 27 Desember 1949.
Namun yang paling berkesan bagi Marzoeki adalah saat pasukannya
ditugaskan menjemput Presiden Sukarno di Lapangan Udara Kemayoran pada
28 Desember 1949.
Marzoeki masih ingat, dengan kekuatan dua seksi (30
prajurit), siang itu mereka dengan gagah dan percaya diri mengawal untuk
pertama kali presidennya yang juga baru saja menjejakkan kakinya lagi
di tanah Jakarta.
"Selamat datang di Jakarta, Pak Presiden!"kata Marzoeki begitu melihat Presiden Sukarno menghampirinya.
Sukarno sumringah. Dia meraih tangan kanan Marzoeki dan menggenggamnya
kuat. Seulas senyum lebar menghiasi wajah pemimpin kaum Republik itu.
Komentar
Posting Komentar